“ Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. ”

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, oleh Tere-Liye

6.01.12.

2

“ Kesedihan adalah tanaman berduri. Jangan biarkan berlama-lama dalam hati, hingga berakar lalu tumbuh subur. Jangan terus disirami dengan airmata. Nanti hatimu semakin sakit karena dipenuhi duri. ”

5.31.12.

2

Jangan bicara tentang masa depan, jika tentang masa sekarang pun kau tidak tahu apa maumu. Setidaknya, jangan mengatakan apa pun tentang masa depan kepadaku. Jangan membuat aku muak.

Manusia memang harus bercita-cita, tapi siapa pun yang tidak mampu menghargai apa pun yang dimilikinya sekarang, atau yang seharusnya dapat dimilikinya saat ini, tidak patut berbicara tentang masa depan - apalagi jika melibatkan perasaan orang lain. Itu omong kosong namanya, dan omong kosong adalah bualan. Dan membual itu berdosa.

Aku bukan Tuhan yang dapat menentukan apakah suatu perbuatan itu dosa atau tidak, tapi menyakiti hati orang yang telah dengan tulus melakukan apa pun yang kau ingini tanpa pamrih itu (mungkin) adalah sekeping dosa. Tentunya sudah aku maafkan, karena sekali lagi, aku bukan Tuhan. Aku hanya manusia yang takut jika hari ini aku mati dan aku masih menyimpan amarah, pintu Surga akan tertutup untukku.

Kamu keji, tanpa kamu sadari. Dan kamu tidak tahu itu. Yang tahu hanya egomu, jadi coba jadilah tuan atas hatimu sendiri. Jangan biarkan egomu yang menjadi raja atas kehidupanmu.

Hari ini aku memang terluka, tapi tak mengapa. Bukan yang pertama kali terjadi, aku sudah semacam terbiasa. Tadinya aku pikir kamu berbeda, ketika kamu tidak melakukan hal-hal yang mereka lakukan padaku dan melakukan hal-hal yang tidak mereka lakukan. Tadinya. Tapi semua itu ternyata hanya bualan di awal hari, dan ternyata kamu memang tidak ada bedanya. Bahkan kamu lebih kejam dari yang kamu tahu. Kamu lebih baik dari mereka, sekaligus lebih buruk dari siapa pun yang aku kenal.

Kalau hari ini kamu sanggup begitu, rasanya tidak sanggup menjalani esok bersamamu. Terima kasih karena tidak memilihku, untuk banyak alasan.

Terima kasih.

5.31.12.

2

Ada yang datang pagi ini, dan ada yang pergi. Ada berita suka cita, ada berita duka cita.

Selamat datang, Amourelle. Selamat jalan, Shirley. Semoga keluarga yang didatangi maupun ditinggalkan sama-sama mendapat hikmah dan mendapat penghiburan dari Tuhan.

Amin.

5.31.12.

0

“ Jangan pernah berhenti berharap. Berharap yang terbaik dari Tuhan. ”

@jatzyjatzy (via BBm)

5.31.12.

0

Ingin sekali menangis saat ini rasanya,
tapi tidak bisa.
Ingin marah sekali saat ini rasanya,
tapi pada siapa.
Ingin bertanya saat ini rasanya,
tapi untuk apa.
Ingin melupakan saat ini rasanya,
tapi bagaimana.

5.31.12.

4

Kata-kata adalah angin yang menyejukkan, tapi tak pernah menetap. Akan terbang dan pergi lagi, kemana pun ia mau. Seharusnya tak usah ku kejar ketika itu, seberapa pun kata-katamu itu mengundangku untuk berlari. Aku hanya seutas layang-layang yang jatuh ke bumi saat ini, ketika angin tak lagi berhembus.

Lihat, dedaunan pun tak ada yang bergoyang.

5.31.12.

0

“ Akhir dari serangkaian kebohongan adalah kesunyian yang mematikan. Atau membuatmu ingin mati, setidaknya. ”

03:08:46

5.30.12.

1

“ Don’t accept anyone until you can accept your very own self, no matter how bad you are as a person. ”

Be true to yourself.

5.29.12.

0

“ I don’t know and I don’t understand why I fall for you nor have a desire to find out, but I want to understand you. ”

So let me.

5.29.12.

0

“ I think the past is as important as the present, even though it might be not as important as the future. Because we are all shaped by the past, and people don’t change. We are all the products of yesterday. ”

I still believe in bibit, bebet, bobot.

5.29.12.

2

“ Aku tak ingin lagi jatuh cinta. Aku mau membangun cinta bersamanya nanti. Laki-laki yang mencintaiku, tanpa membuatku jatuh dan kesakitan. ”

Terima kasih, kamu yang akan datang nanti. Terima kasih.

5.29.12.

3

Ya Ampun! Sekarang Sudah Pukul 05:12:18!

Rapatkan barisan bulu mata! Biarkan yang atas menyetubuhi yang bawah! Lindungi biji mata dari genitnya kerlingan cahaya subuh!

Hentikan lalu lintas dalam kepala! Pagari sekelilingnya biar mau tak mau dia harus diam! Ini kain untuk membekap suaranya! Ini parang untuk menebas telinganya!

Aku ingin tidur cuma ingin tidur sebentar saja! Diminta kerja samanya dengan sangat! Jangan sampai aku gunakan kekerasan! Dengan memasukkan kepala ke dalam kaleng kerupuk, misalnya!

Ya ampun!

5.29.12.

0

“ Kalau kamu bilang aku harus selalu mengasihi karena Tuhan Maha Kasih, lalu bagaimana aku bisa tertidur jika Tuhan tak pernah tidur? ”

Malaikat pun aku bukan.

5.29.12.

1

03:23:11 

Jika rindu ini adalah belati, ujungnya masihlah sangat, sangat tajam. Tak peduli betapa usahaku untuk membuatnya tumpul dengan mematahkannya. Atau menutupinya dengan telapak tanganku. Atau menyimpannya dalam lemari pendingin. Atau menguburnya dalam-dalam di dekat kandang ayam.

Parah, memang. Aku sendiri tak mengerti mengapa bisa jadi begini. Padahal tadinya belati itu hanya lempengan sebilah besi biasa yang membunuh seekor semut pun tak mampu.

Pernahkah kamu dirindukan seseorang dalam sunyi sedemikian hebatnya?

5.29.12.

1