
Mengapa tidak pernah tidur, Tuhan?
Apakah Tuhan tidak pernah mengantuk?
Apakah karena Tuhan terlalu banyak minum kopi?
Apakah karena di Surga tidak ada kasur?
Apakah karena Tuhan terlalu banyak pikiran?
Maafkan aku, Tuhan.
Kalau aku jadi salah satu penyebabnya.
Maafkan aku, Tuhan.
Kalau aku selama ini terlalu banyak meminta.
Tuhan boleh tidur, Tuhan.
Selamat malam, Tuhan.
Mimpi indah.
Besok kita bercanda lagi.
Dan kembali bermain bersama.
Aku sayang Tuhan.

Saya bukan cerpenis, dan awalnya saya mengira saya tidak bisa menulis cerpen, sampai pada suatu malam saya menerima DM di Twitter dari @wira_panda yang mengajak saya untuk menulis sebuah cerpen untuk project-nya ketika itu. Saya ragu, tapi merasa tertantang. Beberapa jam kemudian, cerpen itu jadi dan saya serahkan kepada Wira.
Sore harinya, saya membaca melalui tweet @monstreza, bahwa @myaharyono sedang mencari beberapa penulis perempuan untuk menulis cerpen tentang sepatu. Saya, yang baru saja merampungkan cerpen pertama saya, entah kenapa merasa ingin menulis lagi. Dan lahirnya “Bukan Sepatu Kaca” yang ada di buku “Sole Mate” itu.
Semasa kecil dulu, saya sering dibacakan cerita dongeng oleh almarhumah ibu saya. Dan seperti kebanyakan anak perempuan lainnya, saya sempat mengidolakan tokoh Cinderella. Ketika membaca kata “sepatu” di project Mia, pikiran saya langsung tertuju kepada tokoh Cinderella tersebut.
Cerita pendek ini saya buat sebagai persembahan dan rasa sayang saya bukan kepada sepatu atau kepada Cinderella, sebenarnya - tetapi untuk para sahabat-sahabat gay saya. Mereka adalah orang-orang yang dekat di hati saya, baik yang sudah saya kenal belasan tahun yang lalu, maupun mereka yang baru saya kenal. You guys will always have the most special place in my heart, and when you read the story, you’ll understand what I mean…
Sebenarnya, saya juga mengirimkan sebuah cerita pendek lainnya kepada Mia dan @gelaph. Itu cerpen ke-tiga saya. Cerpen itu saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabat saya, @NonaHujan_. Mia menanyakan kepada saya ketika itu, cerita mana yang lebih saya sukai. Saya jawab dua-duanya, karena keduanya adalah “anak-anak” saya. Tapi lalu Mia dan Grahita memutuskan untuk memilih “Bukan Sepatu Kaca”, dan cerpen saya yang saya tulis untuk Susan tetap saya berikan tepat di hari ulang tahunnya di tahun lalu.
“Bukan Sepatu Kaca” adalah ungkapan rasa cinta saya yang terdalam untuk kalian, para sahabat yang selama ini selalu ada untuk saya dan sudah menjadi bagian dari keluarga saya. There will be no man who can separate me from your love, and this is my promise to you.
I love you, guys.

Katanya orang harus jujur
lalu bagaimana dengan kejujuran
yang menyakitkan?
Mana yang lebih berdosa jadinya:
Berbohong atau menyakiti?
Katanya orang harus saling mencintai
lalu bagaimana dengan orang
yang mencintai pasangan orang lain?
Mana yang lebih baik jadinya:
Mencintai atau mematikan rasa?
Mungkin memang tidak semua orang
harus berkata jujur
harus bersyukur
ketika cinta itu datang.
Mungkin begitu, mungkin begitu.

Kamu suka roti tawar yang dimakan begitu saja, atau roti tawarmu harus dilapisi mentega, selai, atau butiran cokelat?
Saya lebih suka roti tawar yang tawar.
Sebenarnya, roti tawar itu rasanya tidak benar-benar tawar, karena tidak dibuat hanya dengan tepung dan air yang tidak ada rasanya. Roti tawar dibuat dengan mentega, telur, dan gula. Ada rasa gurih yang halus, ada rasa manis yang tak terlalu kentara. Namun rasa itu ada. Dan menurut saya, tambahan seperti mentega yang tebal atau selai dan lainnya, akan menyamarkan rasa roti tawar yang sesungguhnya.
Begitu pula cara saya makan kepiting, kerang dan udang. Saya lebih suka kepiting atau kerang yang direbus atau dikukus, tanpa tambahan saus apapun. Hanya sedikit kecap asin. Itu saja.
Sama halnya dengan hidup. Saya lebih suka kesederhanaan yang apa adanya, tanpa harus dibumbui macam-macam karena menurut saya akan merusak rasa yang sebenarnya. Bisa jadi saya memang orang yang membosankan ya? Tapi menurut saya, apa gunanya membuat sesuatu yang sebenarnya sudah cukup nikmat menjadi sesuatu yang berlebihan.
Ah, mungkin semuanya tergantung selera. Yang enak buat saya, bisa jadi hambar buat kamu. Yang hambar buat kamu, malah cocok dengan lidah saya yang mungkin saja bodoh.
Apapun makanannya, tetap saja harus bersyukur, bukan? Dan jangan lupa masukkan fotonya di Instagram.
Selamat hari Minggu.
Ruang yang penuh manusia
namun serasa sepi berdua
dan kita bagai
sepasang orang asing
yang entah mau memulai
dari mana.
Aku tak tahu
apakah aku rindu
pada kita yang dulu?
Maaf jika telah membuatmu
merasa tak nyaman.
Seharusnya tak begitu…
Sudahlah.
Mungkin memang setiap fase
dalam kehidupan
harus ada akhirnya.
Tak ada yang abadi, namun
tak mustahil akan kembali lagi.
I’m kinda sad last night. Well, I am still feeling sad. People don’t change, but things change. Nobody to blame, as I believe when something happens then it is meant to happen.
But I still feel sad, anyway. And this song somehow reflects my current feeling…
Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
- “In My Life”, The Beatles
Tidak semua perasaan
harus diberi judul.
Tidak semua tulisan
harus diberi judul.
Rasa ini, contohnya.
Juga tulisan ini.
Ada perasaan yang tak kutahu namanya setiap kali mataku menangkap rangkaian huruf yang membentuk namamu. Sementara, bibir merapal doa dan hati mencipta harap: ingatlah akan aku hari ini, dan tinggalkan sebuah pesan untukku. Sesingkat apapun itu.
Selamat pagi.
Masih kau yang aku tunggu.
Masih saja kau.
Entah sampai kapan.

Kau lihat kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil, tapi indah.
Seekor kunang-kunang hanya bisa menyalakan ekornya semalaman. Esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tapi mereka tidak pernah mengeluh akan takdir yang sesingkat itu. Mereka tidak pernah menangis atas nasib sependek itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang. Menghiasi hutan, menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya…
Aku sudah lama jatuh suka padamu. Sayangnya, waktu belum juga berpihak pada kita. Padaku, maksudku. Dan aku sudah lama berhenti mencoba, karena aku percaya akan satu hal: jika kita memang ditakdirkan untuk bertemu, tak ada seorangpun, tak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya.
Entah apa ini namanya. Bukan, bukan berharap, namun lebih mirip sebuah rahasia besar yang dibisikkan oleh Semesta ke telingaku; bahwa ketika nanti akhirnya kita bertemu, sejak saat itu segalanya akan berubah. Kita tidak akan lagi seperti sepasang orang asing yang berteman baik, namun kita akan lebih dekat dari yang pernah kita duga. Seperti bercermin, dan mengisi potongan-potongan yang kosong karena tertutup bayangan kita sendiri.
Seperti sepasang sahabat yang sudah saling mengenal di salah satu lompatan pada kehidupan sebelumnya. Seperti sepasang manusia yang sudah saling bergandengan tangan, sejak dunia masih dipenuhi kemuliaanNya semata.
Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi kau boleh memegang kata-kataku ini - untuk kau buktikan nanti. Intuisiku tak pernah berdusta.
Tunggu aku. Dan sementara itu, jaga dirimu baik-baik. Juga jangan berikan hatimu pada siapapun dulu, karena kita pasti bertemu. Sekali, untuk selamanya.
Dedicating this song for some of my friends who are currently brokenhearted. Brace yourself, dearies! :*