“Bisa jadi seseorang yang kau anggap sebagai kekasih terhebat adalah orang yang paling brengsek menurut setidaknya satu atau dua orang mantannya.”
- Chris Vaughn
Ayah saya terjatuh dua kali hari Minggu kemarin, dan “kebetulan” @agilseto, teman saya, pada hari yang sama bermalam di rumah saya. Agil membantu memapah dan menggendong Ayah saya yang kepalanya menghadap lantai naik ke tempat tidur. Air kencingnya sudah mengalir di lantai, entah sejak pukul berapa. Meskipun biasanya saya yang harus menggendong Ayah, tapi saya tidak akan mungkin kuat untuk menggendongnya ketika dia dalam posisi seperti itu.
Saat ini Ayah saya masih tidak dapat bangun dari tempat tidurnya sendiri, karena lengan kirinya terkilir ketika jatuh kemarin dan tidak mampu untuk menopangnya bangkit dari tempat tidur. Saya terpaksa harus menghentikan semua kegiatan di luar rumah, karena tidak ada yang menjaga Ayah.
Hari ini sebenarnya saya harus menemui seseorang untuk wawancara, tapi karena kejadian ini saya tidak bisa pergi. Tadinya memang saya meminta tolong Agil untuk menemani Ayah saya selama saya pergi, tapi ternyata Agil hari ini harus pergi. Saya memang sudah membatalkan wawancara penting itu pagi tadi, dan saya percaya memang ini sudah rencana Tuhan. Bahwa saya harus berada di rumah saat ini. Bahwa Agil harus menginap di rumah saya sejak hari Minggu kemarin.
Saya tidak boleh mengeluh dan tidak boleh kehilangan semangat. Tuhan sudah sebegitu baiknya kepada saya dan Ayah saya, dan Tuhan masih punya agenda dalam hidup saya. Langkah penting dalam pekerjaan saya hari ini hanya penundaan sementara saja. Anggap saja Tuhan ingin saya meluangkan lebih banyak waktu untuk Ayah saya.
Get well soon, Dad. God loves you more than anyone else - even more than I do.
Terpujilah Nama Tuhan.
Udara panas,
mata mengantuk.
Udara dingin,
tambah mengantuk.
Perut lapar,
lebih baik tidur.
Perut kenyang,
sebaiknya tidur.

Minggu malam kemarin, saya dengan dua orang teman pergi ke daerah pecinan di Jakarta, khusus untuk makan bakmi. Jauh? Tentu saja, tapi demi kerinduan saya dan seorang sahabat, dan rasa penasaran seorang teman yang belum pernah ke sana, berangkatlah kami ke tempat itu. Khusus hanya untuk makan bakmi.
Jangan bayangkan tempat makan yang mewah. Tempat ini sangat sederhana. Bangkunya dari plastik dan ruangannya tidak berpendingin udara. Pelayanannya juga sangat lama. Tapi makanannya semua enak di sana! Boleh dibilang, tempat ini menjual bakmi yang paling enak di dunia! Saya memang belum pernah berkeliling dunia, tapi buat saya yang sok tahu ini, bakmi di tempat ini boleh diadu kenikmatannya dengan bakmi mana pun di dunia!
Di tengah persaingan tempat-tempat makan yang makin lama makin banyak di dunia dan menawarkan bukan sekedar masakan yang enak, tapi juga kenyamanan, tempat ini masih mampu bersaing. Terbukti dengan ramainya pengunjung, terutama saat “jam kecil”. Tempat ini buka setiap hari dari pukul lima petang hingga pukul lima dini hari. Bayangkan. Orang jauh-jauh datang ke tempat ini tengah malam hanya untuk makan bakmi. Dan saya salah satu dari orang-orang itu.
Kesimpulannya, sesuatu yang enak itu pasti akan diperjuangkan, meskipun mungkin sesuatu itu tidak indah rupawan dan jauh dari kesan mewah. Seseorang yang menyenangkan, meskipun tidak cantik dan tidak berpenampilan menarik, pasti akan selalu dicari oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikan hatinya. Kita lebih memilih makan di tempat yang sederhana tapi makanannya enak dibanding di tempat yang mewah tapi makanannya tidak enak, bukan? Kecuali terpaksa. Itu lain lagi ceritanya.
Ada orang yang dikerumuni banyak orang karena terpaksa, karena orang-orang itu tidak punya pilihan lain. Atau karena mereka mencari keuntungan secara diam-diam dari orang itu. Kasihan, memang. Tapi begitulah hidup.
Jadilah seperti semangkuk bakmi kesukaan saya. Meskipun jauh dan tidak cantik, tapi tetap diburu orang. Jauh itu memang tidak enak, tapi yang dekat belum tentu lebih enak dari yang jauh, bukan?
Dear Lisa,
Maafkan sebelumnya. Aku tidak yakin apakah aku bisa menemui Leo di Delhi, karena aku sibuk sekali 2 minggu ini. Selain ada beberapa deadline yang harus aku selesaikan, Nala juga tidak mengijinkanku untuk pergi sendiri. Dia sendiri sedang sibuk, jadi tidak bisa menemaniku ke luar kota.
Nala bukan laki-laki yang posesif, tapi… aku punya kejutan untukmu. Untuk kalian berdua, sebenarnya. WE ARE EXPECTING A BABY! Dan kami baru mengetahuinya 2 hari yang lalu. Tapi jangan khawatir, Lisa - aku masih akan terus merayu Nala agar mau menemaniku ke pesta pernikahanmu. Toh kami juga tidak merencakan untuk menikah, setidaknya belum ada rencana untuk itu dalam waktu dekat ini. Kami tidak ingin menikah hanya karena aku sedang mengandung anaknya, karena itu bukan alasan yang tepat untuk menikah - setidaknya menurutku.
Makan siang di sebuah kedai ayam bakar di depan rumah kemarin bersama Irvan dan Adit, dan disambut lagu ini. Seketika itu pun saya bergoyang. Memang tidak ada tamu lain kecuali kami. Hehe.
Lagu lama, dan Marcel pun masih kribo di klip ini. Belum se-sexy sekarang. Shanty tetap cantik dan kurus, sampai hari ini.
Lagu ini ditujukan untuk semua orang yang terlalu cepat berharap. “Gedhe rumangsa”, dalam bahasa Jawa. Termasuk saya. Dan kamu.
Sudahlah. Haha.

Jumat Agung, dan saya tidak beribadah di Gereja. Dan sorenya, saya mengunjungi sebuah pusat pertokoan di dekat rumah bersama seorang temannya. Ramainya luar biasa. Kepala saya pusing, tubuh saya berkeringat, tenggorakan saya terasa kering. Jadi kami memutuskan untuk pulang saja.
Sesampainya kami di depan apartemen saya, kami mengobrol dulu di mobilnya. Tentang banyak hal. Dia sebenarnya tidak bermaksud membicarakan siapa pun, tapi karena ada beberapa nama yang terlibat dan dia pun terlibat dalam kerumitan itu, akhirnya saya pun jadi mendapat sisi baru dari sebuah cerita yang sudah lama saya dengar.
Saya bukan orang yang suka ikut mencampuri urusan orang lain, kecuali orang itu datang kepada saya dan meminta pendapat. Saya juga kadang bukan pendengar yang baik, tapi kebetulan sore kemarin rasa kemauan saya untuk mendengar sedang dalam keadaan normal. Jadi saya mendengarkan ceritanya.
Kesimpulannya adalah, kadang kita membela seseorang karena dia teman kita dan kita lalu membutakan diri dari kebenaran yang sesungguhnya. Kita tidak mau lagi tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya atau bagaimana teman kita itu memperlakukan orang lain. Pembelaan itu tergantung pengaruh orang lain pada awalnya. Itu manusiawi, tapi mungkin ada baiknya kalau kita juga mencari tahu dulu bagaimana duduk persoalannya sebelum menentukan di sisi siapa kita berdiri.
Pembelaan yang buta itu sama seperti kepercayaan yang buta. Bukan saja terhadap manusia, tapi juga terhadap agama. Kita merasa teman kita dan agama kita yang paling benar karena rasa kepemilikan. Kalau perlu, kita memprovokasi orang lain untuk ikut berada dalam barisan kita. Bahkan ibu kandung dari seorang bayi paling buruk di dunia pun pasti merasa bahwa anaknya yang paling cantik, bukan?
Benar atau salah itu relatif, tergantung dari “siapa” dan “apa”. Tapi bukankah lebih baik menyikapi suatu peristiwa dari sudut “bagaimana” dan “mengapa”, tanpa harus mempedulikan kedua hal dalam kalimat di paragraf ini?
Temanmu bukan yang paling benar. Agamamu pun mungkin tidak. Sayangnya kita baru akan tahu yang sebenarnya nanti, ketika kita sudah berhadapan dengan Yang Maha Benar.
Sachi sayang,
Kau tahu hal apa yang paling menyebalkan dalam persahabatan para perempuan? Persaingan! Bukan hanya persaingan untuk tampil menjadi lebih cantik dari yang lain, tapi juga persaingan ketika mereka, kita, jatuh cinta kepada laki-laki yang sama, dan harus memilih antara laki-laki itu atau sahabat kita…
Aku juga benci kepada perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang lain, terlepas apakah perempuan itu sahabatnya atau seseorang yang tak ia kenal. Menurutku, mereka tidak lebih baik dari seorang pelacur. Dan aku, Sachi, pernah menjadi perempuan semacam itu. Jatuh cinta kepada suami orang lain, bahkan berharap bahwa laki-laki itu akan meninggalkan isterinya untuk aku.
Bodohnya aku.
Naifnya aku.
Jahatnya aku.
@Dear_Connie @gelaph #3Sahabat
Entah kenapa, tapi menurut aku ini beneran jadi mirip Mia, Gelaph, dan aku. Aku yang kelihatan paling pendek dan juteg, seperti aslinya :’D

Malam ini kembali purnama.
Bulan bulat bundar. Penuh.
Mungkin para malaikat
sedang makan martabak.
Dan di antara mereka
ada Ibu saya. Martha, namanya.
Mungkin Ibu saya
juga sedang makan martabak.
Tapi saya tidak pernah melihat
ada malaikat yang punya gigi.
Bisa jadi karena malaikat
tidak butuh makan seperti saya.
Atau mungkin
karena saya memang tidak pernah
melihat malaikat, kecuali Ibu.
Itu pun ketika Ibu masih manusia.
Malam ini kembali purnama.
Saya mendongak ke atas,
tapi Ibu tidak terlihat.
Mungkin Ibu tidak makan martabak.
Saya rindu Ibu saya.
Martha, nama malaikat saya itu.
Dia suka martabak manis Wisjman,
tapi itu ketika Ibu belum jadi malaikat.
Kalau memang Ibu makan martabak,
Ibu pasti segera membersihkan gigi.
Jadi malaikat pasti punya gigi,
karena Ibu rajin menyikat giginya.
Jadi saya pernah melihat malaikat
karena saya pernah punya Ibu.
Dulu Ibu tak bersayap
tapi dulu Ibu bernyawa,