
Tadi saya bertemu dengan seorang gadis kecil yang sangat cantik dan lucu. Usianya mungkin sekitar 3 tahun. Rambutnya lebat, hitam, ikal, dan panjang. Kulitnya putih. Matanya bulat. Tubuhnya sedikit gempal, tapi tidak gemuk. Pokoknya, dia mirip anak-anak di iklan susu di televisi. Dan saya ingat betul, dia mengenakan rok berbahan kaus bergambar Angry Birds.
Ibunya juga ada di situ. Sepertinya ibunya masih sangat muda, mungkin usianya kurang dari 25 tahun. Sang Ibu menggendong adik bayi Si Cantik. Sepertinya bayi laki-laki.
Saya mencoba membuka percakapan dengan Si Cantik dan Ibu Si Cantik. “Kamu cantik banget!” kata saya. Tulus. Di luar dugaan, Si Cantik memelototkan sepasang matanya yang indah. “NGGAK! SAYA JELEK!” Saya terdiam, lalu saya berkata, “Iya. Kamu jelek.” Sekarang, Si Cantik yang terdiam.
Ini sebenarnya tamparan buat diri saya sendiri. Seringkali ketika dipuji orang lain, saya malah merendahkan diri saya. Bukan merendahkan hati, tapi merendahkan diri. Lalu ketika ada orang lain yang percaya bahwa saya sebegitu rendahnya, saya pun jadi marah.
Jadi siapa yang salah?
Saya rasa Si Cantik itu tidak menyangka bahwa saya akan mengatakan bahwa dia jelek di depan ibunya. Dia salah besar.
Saya juga mungkin akan kaget kalau ada orang yang mengatakan betapa rendahnya saya, padahal saya tahu saya tidak rendah dan saya punya teman orang-orang hebat.
Gadis kecil yang cantik tapi jelek, mari kita sama-sama belajar menghargai diri kita sendiri agar orang lain pun menghargai kita.
Dear Sachi,
Aku tidak tahu harus berkata apa… Baru saja tadi Lisa meneleponku, dan bertanya apakah aku menerima balasan suratmu. Aku terpaksa berbohong. Aku sungguh tidak nyaman berada di posisi ini, karena aku sayang kalian berdua. Di satu sisi aku sungguh mengerti perasaanmu, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Lisa…
Sachi sayang,
Cinta memang hal yang pelik dan yang tidak dapat dijabarkan dengan pikiran sehat. Aku yakin bahwa Leo aka Do Do adalah laki-laki yang sangat menarik. Buktinya kedua sahabatku yang tidak mudah jatuh cinta, kau dan Lisa, bisa menjatuhkan hati padanya.
Satu hal yang selalu aku percayai sejak dulu: Di dunia ini tak ada hal yang terjadi secara kebetulan.

Jumat kemarin saya dikunjungi oleh seorang sahabat. John, namanya. Seperti biasa, percakapan dengan John tidak pernah dangkal. Dia memang laki-laki muda yang cerdas. Bukan hanya cerdas, John juga punya cinta yang sangat besar untuk Indonesia dan untuk Tuhan.
Banyak hal yang dia katakan kemarin yang membuka mata saya, diantaranya adalah ketika dia mengatakan bahwa sebenarnya banyak pemuka-pemuka agama Kristen dan Katholik juga sebenarnya sama buruknya dengan sebagian pemuka-pemuka agama Islam. Saya pun menyetujui pendapatnya itu. Dan saya sendiri juga patah hati dengan keadaan ini, sebenarnya.
John pernah berniat untuk pindah agama, tapi dia tidak menemukan “chemistry” dengan agama tersebut. Tapi dia masih merasakan kekecewaan terhadap agama yang dianutnya sekarang, dan dia menuliskannya di sebuah artikel tentang hal ini. Seseorang lalu bertanya kepada John, “Kalau memang Anda sudah tidak suka dengan agama Anda yang sekarang, mengapa Anda tidak pindah agama saja?”
John terdiam. Dia tidak tahu jawaban yang pasti atas pertanyaan itu. Yang dia tahu, sampai hari ini setiap saat hatinya ingin mencari ketenangan, dia akan memasuki Gereja dan berdiam di sana. Dan mungkin seperti nomor telepon, agamanya yang sekarang adalah satu-satunya “nomor” yang dia tahu ketika dia hendak berkomunikasi dengan Tuhan. Padahal bisa jadi Tuhan punya banyak nomor kan?
Saya sendiri sudah tiba di tahap keyakinan bahwa memang hanya ada satu Tuhan, dan kalau pun nanti suatu hari, dengan seijin Tuhan, saya menghubunginya dengan “nomor lain”, saya pasti akan menurut. Tapi saya setuju dengan John. Agama yang diajarkan oleh orangtua kita ketika kita lahir itu seperti pakaian, menurut saya. Bisa jadi memang saya tidak suka lagi dengan modelnya, atau sudah tidak lagi nyaman menurut saya, tapi itulah satu-satunya pakaian yang saya tahu. Pakaian itu ya seharusnya seperti yang saya kenakan saat ini, bukan seperti yang dikenakan orang lain.
Mungkin lebih mudah menganalogikannya dengan sari - busana perempuan India (ya, saya memang terlalu tergila-gila dengan budaya India). Mereka “terpaksa” mengenakan sari, meski pun pakaian modern jauh lebih nyaman. Mereka juga terpaksa mengenakan sari, ketika nanti perut mereka tidak lagi langsing. Mengapa? Karena sari adalah satu-satunya pakaian yang mereka tahu sejak mereka lahir dan diperkenalkan oleh sesuatu yang bernama “pakaian” oleh orangtua mereka.
Masih ada beberapa hal tentang konsep ketuhanan yang kami bahas kemarin, yang mungkin akan saya tulis nanti. Mungkin. Tapi satu hal yang saya syukuri saat ini: Doa saya siang tadi dijawab Tuhan. Jakarta hujan. Untuk bahagia dan untuk bersyukur memang tidak perlu hal besar, bukan?
Selamat bertuhan dengan nyaman :))
Aku baru tahu
bahwa kita sedang sama-sama
saling merindu.
Aku tahu pasti
bahwa rinduku ini untukmu
bukan untuk yang lain.
Yang aku tidak tahu
apakah rindumu itu untukku
atau untuk yang lain?
Kapan aku bisa jujur
dan mengatakan padamu
tentang perasaan terpendam ini?
Kapan kau mau mengaku
bahwa selama ini
hatimu pun jatuh padaku?
Kapan-kapan.
Ya?
Haha.
Dear Lisa dan Sachi!
Whoa! Jadi Lisa akan segera menikah! Dan di Bali! Tentu saja aku akan terus mendoakan agar hubunganmu dan Leo akan lancar dan dapat dilaksanakan secepatnya! Ini tandanya aku harus mulai lebih giat menabung, supaya aku dapat menghadiri pesta pernikahanmu, Lisa!
Dan lukisan telanjang itu sungguh membuatku ternganga! Leo menggambarkanmu dengan begitu indah. Aku sungguh yakin bahwa dia sangat mencintaimu. Orang yang sedang jatuh cinta bisa melihat dengan mata lain, yang tidak dapat dilihat oleh mata orang biasa. Lisa, kamu yang lebih cantik dari Mona Lisa di Louvre itu jadi semakin cantik di atas jemari Leo!
Sachi,
Apakah kamu juga pernah dilukis telanjang? Aku belum pernah, dan mungkin aku tidak ingin. Aku malu. Kulitku hitam dan kering, dan bentuk tubuhku juga tidak layak untuk dijadikan karya seni. Untung Nala bukan seorang seniman seperti Leo. Kalau pun iya, aku sangsi bahwa dia akan menjadikanku modelnya. Hehe.

Menjadi gay atau straight itu kodrat, bukan pilihan. It is not sexual preference, but it’s destiny. It’s fated. Sama halnya seperti orang yang terlahir dengan kulit putih tapi ingin berkulit hitam. Tidak akan bisa. Meskipun berjemur berminggu-minggu, kulitnya akan kembali memutih. Jadi jangan pernah memaksakan orang yang terlahir gay untuk menjadi straight, juga sebaliknya.
Dear gay friends,
Please respect your straight friends.
Dear straight people,
Do respect gay people.
Again: Heterosexuality and homosexuality isn’t a preference. It is genetic, and it is God’s will. Period.
Dear Lisa dan Sachi,
So sorry for the late reply! And I am so jealous as well with you, Sachi! Aku rindu Bali! Dan aku semakin rindu Bali ketika melihat foto-fotomu di Bali akhir pekan kemarin! Iri!!!
Awal minggu ini aku sangat sibuk dengan pekerjaanku, ditambah dengan kunjungan beberapa teman ke rumahku. Nala, salah satunya.
Ya. Setelah pertemuan kami hari Sabtu kemarin di Pantai Malpe, kencan kami berlanjut hingga keesokan harinya. Kami bermalam di Paradise Isle Beach Resort. Benar-benar “bulan madu kecil” yang spontan, karena kami berdua tidak berencana menginap dan kami tidak membawa pakaian! Aku lampirkan foto hotel tempat kami menginap itu. Cantik bukan?