Tidak ada tempat di dunia ini senyaman tempat di mana pikiran dapat berjalan sendiri dalam kembaranya. Melihat hal yang tak dapat dilihat oleh mata, merasa apa yang tak dapat dirasa oleh kulit, menghirup udara yang tak dilalui oleh hidung.
Dan penjara terdalam dan terpengap yang pernah ada adalah tempat di mana pikiran harus dikunci rapat-rapat, dan tak diijinkan oleh ditengok, kecuali oleh si sipir penjara. Manusia yang memenjarakan si pemikiran itu. Pemilik pikiran itu sendiri.
Merdeka itu tidak perlu ditandai dengan kibaran bendera, tapi cukup dengan kata-kata yang mengalir deras seperti sungai yang tidak pernah membeku di musim dingin. Mengalir, terus mengalir tak mengenal istirahat. Bermuara ke laut, di mana kebebasan lain telah menanti: Pemikiran-pemikiran lainnya yang lebih dalam, lebih liar, dan lebih biru.
Aku ingin berenang lepas di samudra yang seperti itu. Bersama para ikan, cumi-cumi, kepiting, udang, dan kami berlarian di antara tetumbuhan dan karang laut. Ini aku sedang terus mengasah kakimu agar bersisik. Ini aku sedang menggunting kedua tanganmu agar seperti sirip.
Bawa aku pergi dari belenggu pemikiranku sendiri. Jauh, jauh, sampai aku tak ingin lagi pulang.![]()
Karena aku belum menemukan rumahku yang sesungguhnya.