
“The Dark Knight Rises” ini beberapa hari terakhir menuai banyak pujian di Twitter. Saya sendiri bukan termasuk orang yang terpengaruh dengan promosi apa pun yang saya baca di Twitter, dan terus terang saya bukan orang yang menyukai film-film yang bertemakan super heroes.
Tapi ketika dalam perjalanan pulang barusan, saya tidak sabar ingin cepat sampai di rumah untuk menuliskan review tentang film ini. Mungkin berlebihan kalau saya katakan sampai saat ini dada saya rasanya masih membuncah dalam senang.
Saya tidak pernah menonton film-film Batman pendahulunya, dan ini film Batman pertama yang saya tonton - dan kabarnya ini film Batman terbaik yang pernah ada. Bisa jadi benar, karena memang film ini luar biasa.
Ini adalah film super hero yang (seharusnya) tidak ditonton oleh anak kecil, karena adegan kekerasannya lumayan keras untuk anak. Tapi yang mengesankan di film ini bukanlah scene-scene kekerasannya, melainkan pelajaran moral dan pelajaran hidup yang dapat kita ambil tanpa merasa digurui.
Di film ini kita belajar bahwa seorang jagoan pun dapat merasakan sakit dan kesepian. Jagoan juga manusia, punya rasa punya hati. Bukan hanya rocker. Jagoan pun bisa menjatuhkan pilihan hatinya pada orang yang salah…
Lalu kita juga belajar betapa jahatnya kesepian. Kadang kita tidak mengerti mengapa seseorang mampu berbuat keji dan kita hanya menghakimi. Bisa jadi dia telah dan masih mengalami masa-masa yang sangat sulit, yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Film ini ditutup dengan sangat manis. Menghabiskan waktu selama tiga jam untuk film sekeren rasanya saya ikhlas-ikhlas saja, padahal waktu menunggu jam main tadi, saya sempat terkantuk-kantuk.
Mungkin juga karena setermos iced coffee jelly yang saya minum sebelum saya tonton tadi. Atau mungkin, karena saya jatuh cinta pada tokoh Robin Blake. Tepat pada pandangan pertama :))
Joseph Gordon-Levitt, I love you! :*