Hari ini saya dikalahkan oleh rasa bosan. Akhirnya saya men-download 2 games di Android saya: “Restaurant Story” dan “Bakery Story”. Cara bermainnya mirip “Cafe World” yang ada di Facebook. Itu memang game Facebook favorit saya, sampai saya kehilangan akses internet pada suatu hari. Masakan saya gosong semua. Patah hatilah saya. Saya memang orang yang mudah putus asa dan patah semangat. Patah hati? Itu lebih mudah lagi buat saya. Tapi makin lama saya belajar untuk makin tidak peduli, dan terus mencoba.
Begitu.
Nah, restaurant dan bakery saya ini sangat padat pelanggan. Saya menggunakan hampir semua uang yang ada untuk membeli meja dan kursi, karena pada awal permainan banyak di antara mereka yang kecewa karena tidak kebagian kursi.
Ini “fotonya”:
Restaurant dan bakery saya tidak indah. Terlalu padat, malah. Tak ada pot bunga atau hiasan dinding. Lantainya pun tak sama warnanya karena saya terlalu pelit untuk menyeragamkannya. Pikir saya, untuk apa memberikan rasa nyaman pada orang yang sejak awal niatnya hanya singgah sebentar?
Buat saya, hanya orang yang mau menetap yang berhak atas hak istimewa itu. Hak untuk merasa nyaman. Sia-sia hak semacam itu diberikan kepada seorang musafir.
Saya belajar dari pengalaman. Saya tidak lagi mau memberi banyak kepada orang yang menjadikan saya sekedar tempat persinggahan, bahkan pelarian. Saya ini rumah, bukan kos-kosan atau hotel.
Sebentar. Saya harus mengangkat clam chowder dari kompor. Kau duduk manis saja di situ.