
Sama seperti tahun-tahun lalu, bahkan sebelum beliau pikun seperti sekarang, ayah saya memang tidak pernah mengingat hari ulang tahunnya. Mungkin karena dia laki-laki.
Dan tahun ini pun begitu.
Sengaja saya tidak mengingatkannya sejak semalam bahwa hari ini dia berulang tahun. Dan saya juga tidak memberitahu bahwa saya ingin mengajaknya makan siang di luar rumah untuk merayakan ulang tahunnya.
Isah - pekerja harian yang membantu saya mengurus rumah - sengaja saya perintahkan untuk datang hari ini. Dan dia datang lebih pagi dari biasanya, supaya pada jam makan siang kami sudah siap pergi.
Ayah saya tidak banyak bertanya, namun kelihatan senang ketika menaiki taxi. Maklum, boleh percaya boleh tidak, sudah setahun lebih beliau tidak pernah meninggalkan kompleks perumahan yang kami tinggali. Paling jauh, dia hanya pergi ke tukang cukur rambut langganannya, dengan berjalan kaki.
Kami sempat mampir sebentar di sebuah swalayan. Isah dan ayah saya menanti di taxi, dan saya berlari ke dalam untuk membeli kue dan lilin ulang tahun. Karena beliau adalah seorang penderita diabetes, maka saya pilihkan seloyang bolu pisang sebagai “kue ulang tahunnya”. Hehe.
Sesampainya di Lotte Mall, hal yang pertama dia tanyakan adalah, “Nanti kalo saya mau pipis gimana?” Haha. Padahal di rumah tadi, dia sudah buang air kecil sebelum pergi. Dan dia pun minta diantarkan ke kamar kecil, tapi urung - karena kamar kecil di pertokoan itu lumayan jauh letaknya dari restoran tempat kami makan siang.
Tak lama, teman kecil saya @starlian datang. Dengan wajah berseri-seri dia berseru, “Happy birthday, Oom! Tuhan memberkati!” Saya panik, karena saya memang belum ingin memberitahu kepada ayah saya bahwa dia berulang tahun hari ini. Lalu saya ralat, “No, Dad. She was just joking.” Lian memandang saya dengan wajah bingung. Salah saya memang, lupa memberitahunya melalui BBm sebelumnya :))
Saya memesankan seporsi makanan kesukaannnya dan segelas minuman kesukaannya. Ayah, maksud saya. Kwetiau siram dan jus alpukat. Dengan lahap dihabiskannya makan siangnya, dan hanya tersisa sayurannya. Dasar “anak kecil”! :D
“Saya kenyang banget!”
“Mau minum air putih?”
“Nggak. Ini cukup.”
Dan apa yang terjadi? Sebelum saya menunduk karena sesuatu yang saya tidak ingat sekarang, saya lihat minuman di gelasnya masih setengah. Betapa terkejutnya saya ketika saya mendongakkan kepala, gelasnya telah kering! :D
Kemudian kami mulai memulai ritual ulang tahun yang klise itu. Kami berempat berdoa bersama, kemudian menyalakan lilin. Sebelum meniup lilin, ayah saya berdoa lagi sendiri.
“Do you know how old are you today”
“Seventy-eight? Eighty-eight? How old I am?”
Lian dan saya tertawa :D
Lalu acara ulang tahun selesai.
Ayah saya pulang ke rumah bersama Isah, dan saya tinggal di pertokoan itu bersama Lian.
Singkat cerita, saya baru tiba di rumah pukul 7 malam, dan ketika melihat saya, ayah saya bertanya:
“Kamu habis dari mana?”
“Lha kan tadi memang ik belum pulang? Do you remember that today is your birthday?”
“Really? No, I don’t…”
“Do you remember that we had lunch together today?”
“I think so…”
Saya antara ingin tertawa, tapi sedikit sedih juga. Hehe. Dia sudah sebegitu pikunnya. Astaga. Dan dia selalu mengatakan pada orang-orang, “Saya ini belum pikun, lho. Masih inget semuanya.”
Mengurus orang yang sudah sangat tua itu tidak mudah. Saya belum pernah mengurus anak kecil, tapi saya rasa lebih sulit mengurus orang tua. Hanya saja untungnya ayah saya bukan termasuk orang tua yang pemarah dan banyak maunya.
He’s the sweetest old man that I’ve ever known. And he’s my father that I love more than anything in life.
Semoga tahun depan kami masih dapat merayakan ulang tahunnya lagi.
Amin.
Merayakan pagi ini dengan sejuta syukur.
Dari sekian banyak berkat Tuhan, merawat orang terkasih adalah karunia yang tak dapat dibeli. Sekali pun oleh waktu.
Satu tahun lagi bersamanya. Semoga masih ada waktu baginya untuk menyaksikan bahwa saya akan lebih bahagia dari hari ini, dari yang dia tahu.
Amin :’))
Pergantian usia. Semakin dekat kepada keabadian, semakin jauh dengan keniskalaan.
Selamat ulang tahun, Ayah.
Terima kasih untuk terus bersamaku sampai hari ini.
Aku sayang sekali kepadamu.
Jangan pernah menangisi hal yang sia-sia.
Sayangi bumi. Hematkan air.
Jangan pernah menangisi orang yang membuatmu menangis.
Sayangi mata indahmu. Jangan buat Kermit iri.
Jangan pernah bernyanyi ketika hatimu hancur.
Kasihan telingamu, nanti gendangnya sumbang.
Jangan pernah bernyanyi ketika kamu ingin menangis.
Kasihan ingusmu, nanti dia tertelan mulutmu.
Jangan pernah berkata ya ketika hatimu bilang tidak.
Bohong itu tidak baik.
Jangan pernah berkata ya dengan rasa terpaksa.
Kamu berhak punya keinginan sendiri.
Jangan pernah menerima cinta hanya karena kamu kesepian.
Kamu punya sahabat yang namanya Tuhan.
Jangan pernah menerima cinta hanya karena kamu ingin punya pacar.
Nanti kamu bingung sendiri saat kamu benar-benar bertemu dengan orang yang membuatmu jatuh cinta.
Jangan pernah menjadi orang yang bukan seperti kamu yang sekarang.
Karena aku sayang kamu karena kamu.
Jangan pernah menjadi orang lain yang seperti mereka.
Karena katamu kemarin, “Mbak, kita bukan mereka.”
Jangan pernah berhenti untuk mencari bahagia.
Karena bahagia juga sedang mencari kamu.
Jangan pernah berhenti untuk mencintai cinta.
Karena cinta tidak pernah berhenti mencintaimu.
Selamat tiga puluh, adikku Dewi Subrata.